Kamis, 01 Mei 2008

Kisah sukses lulusan SD dengan tabungan lebih dari Rp.5 milyard

Kisah sukses lulusan SD dengan tabungan lebih dari Rp.5 milyard diambil dari p2kp.org
kusdar minto, 24 Oktober 2007, jam 11:00:51 KEBERHASILAN USAHA SEORANG LULUSAN SD.
Kusdarminto, Micro finance/credit Specialist


Warung bakso cak Karno.

Apabila kita naik bis dari Purworejo menuju ke Terminal Yogyakarta, sesampainya di Yogyakarta kita mesti melewati “pojok beteng kulon”. Sekitar 200 meter dari lampu merah pojok beteng kulon, disebelah kiri jalan akan kita lihat sebuah warung kecil bertulisan “Bakwan Malang Cak Karno”. Ciri lain warung itu adalah banyaknya kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat yang diparkir didepan warung.

Saya telah mendengar ketenaran warung itu. Tapi mengapa warung itu terkenal, saya tidak tahu.

Kalau kita melihat warungnya, tidak ada yang istimewa. Warungnya kecil, sederhana tidak ada tempat parkir, sehingga pembeli memarkir kendaraannya dipinggir jalan, dan llokasinya dekat dengan pasar sepeda.
Kalau kita melihat namanya, cak Karno ini pasti dari Jawa Timur tepatnya dari Surabaya.

Karena penasaran, pada suatu hari sekitar pukul 11 siang saya mencoba untuk jajan bakso di warung itu. Pada waktu saya datang, dimuka warung sudah ada beberapa sepeda motor dan mobil yang diparkir ditepi jalan. Setelah saya masuk, ternyata hampir semua kursi yang berkapasitas sekitar 32 orang telah terisi. Untung masih ada beberapa kursi yang kosong, sayapun mengambil salah satu kursi yang kosong.

Saya juga melihat beberapa orang berdiri didekat “angkring” bakso. Ternyata orang ini adalah pembeli bakso yang akan dibawa pulang.

Setelah saya duduk, datang seorang pelayan laki-laki muda yang sederhana menanyakan saya akan pesan apa. Saya pesan 1 porsi bakso yang terdiri dari 2 butir bakso halus dan 2 butir bakso urat serta pesan 1 teh botol Sosro. Saya lihat dalam daftar harga, 1 porsi bakso harganya Rp.7.500,- dan 1 teh botol Sosro harganya Rp.1.500,-. Harga bakso sebesar itu di Yogyakarta termasuk mahal. Diwarung yang lain 1 porsi bakso harganya Rp.5.000,-

Sambil menanti pesanan datang, saya mengamati sekeliling. Saya lihat bahwa meja untuk makan cukup sederhana, terbuat dari kayu Kalimantan yang kualitasnya agak bagus dan atasnya dilapisi melamin putih yang terkesan bersih. Ukuran meja sekitar 120 cm x 60 cm yang dapat digunakan untuk 4 orang. Jumlah meja saya hitung sebanyak 8 meja, jadi cukup untuk 32 orang pembeli. Disetiap meja ada saos, kecap, garam, krupuk maupun sambal.
Sedangkan kursinya terbuat dari plastic yang harganya juga tidak mahal. Kursi ini warnanya sama sehingga tampak rapi.

Pelayannya semua laki-laki, muda, sederhana dengan pakaian yang tidak seragam tapi cukup bersih dan rapi. Baksonya ditata di “angkring” yang terletak didepan. Lantai warung terbuat dari keramik berwarna putih yang kelihatan terpelihara karena cukup bersih.

Yang sedang menikmati bakso sebagian anak muda. Sebagian lagi orang-ornag kantoran dan bapak/ibu rumah tangga. Hal ini dapat dilihat dari penampilannya dan pembicaraan mereka.

Dalam waktu yang tidak begitu lama, pelayan datang membawa pesanan saya. Setelah pesanan disajikan dimeja, dia menyilahkan saya untuk menikmati bakso yang dihidangkan. Dari baunya saya dapat merasakan bahwa bakso yang dihidangkan rasanya enak. Dugaan ini ternyata benar setelah saya mencoba untuk mencicipi kuah dan baksonya. Akhirnya pertanyaan yang ada dibenak saya yaitu : mengapa warung cak Karno laris, terjawab, yaitu : rasa baksonya enak sekali. Dari rasa bakso tersebut menurut pendapat saya bahwa sebagian besar (minimal 75%) bahan baku bakso ini adalah dari daging.


Berkenalan dengan cak Karno.

Pada waktu sedang menikmati bakso dating seorang laki-laki sekitar berumur 45 tahun, dengan pakaian sederhana, bertubuh agak pendek sekitar 158 cm, warna kulitnya coklat agak sedikit hitam dengan rambut agak ikal, menuju ke pelayan yang berada didekat angkring. Orang tersebut berbicara dengan pelayan tetapi aku tidak mendengar apa yang dibicarakan. Dugaan saya orang itu mesti pembeli yang sedang memesan bakso. Setelah itu orang itu melihat ke ruangan tempat duduk dan melihat sebagian besar tempat duduk telah terisi. Tapi dia tidak menuju ketempat duduk melainkan kedapur. Feeling saya mengatakan : pasti orang tersebut Cak Karno. Kebetulan sekali. Aku kepingin ketemu sama dia !

Setelah selesai makan bakso, saya menghampiri pelayan yang ada di dekat angkring bakso untuk membayar bakso yang telah saya makan.
Kesempatan ini saya gunakan untuk bertanya kepada pelayan : “Apakah yang tadi masuk ke dapur cak Karno ?”
Pelayan menjawab : “Betul pak. Ada apa ?”
Saya bertanya lagi : “Apakah saya bisa ketemu dengan pak Karno ?”.
Pelayan menjawab : “Tidak tahu pak, tapi coba saya tanyakan”. Akhirnya dia masuk ke dapur.

Tidak begitu lama pelayan muncul dengan cak Karno. Pelayan berkata kepada cak Karno : “Bapak inilah yang kepingin ketemu Bapak (maksudnya cak Karno)”. Kemudian kami bersalaman sambil berkenalan. Setelah itu mencari tempat duduk yang kebetulan masih ada yang kosong dan cak Karno mempersilahkan saya duduk. Saya merasakan keramahan cak Karno dalam menemui saya yang mungkin masih asing baginya.





Mulai bekerja :

Dari hasil pembicaraan dengan cak Karno dapat diketahui sebagai berikut :
Nama asli cak Karno adalah Ponidi. Cak Karno adalah nama sepupunya di Madura. Ponidi berdarah Madura dan lahir di Surabaya dari keluarga yang kurang mampu. Setelah tamat SD, Ponidi kecil tidak dapat meneruskan sekolahnya karena tidak punya biaya. Dia sempat menganggur beberapa bulan. Darah Maduranya yang suka tantangan tidak dapat diredam. Dia ingin bekerja untuk meringankan beban orang tuanya. Dia sadar bahwa dia masih kecil (waktu itu sekitar berumur 14 tahun) dan pendidikannya hanya SD maka peluang untuk mendapatkan pekerjaan sedikit. Kebetulan ada warung bakso yang tidak jauh dari rumahnya memerlukan tenaga untuk membantu berjualan bakso. Dia melamar untuk pekerjaan tersebut dan akhirnya diterima. Ponidi kecil sangat senang ketika dia diterima bekerja.

Ponidi termasuk anak yang tekun, dapat mendengarkan petunjuk maupun kritik orang lain dan motivasi kerjanyapun tinggi walaupun gajinya kecil Semua pekerjaan dia kerjakan dengan senang hati dan dapat dia selesaikan dengan baik sehingga dia disenangi oleh majikannya.

Gaji yang dia terima selalu ada yang dia sisihkan untuk ditabung. Dia memang anak yang hemat, keinginannya tidak macam-macam yang diluar jangkauan keuangannya. Dia mempunyai cita-cita yang lebih tinggi. Dia kepingin hidup lebih baik dihari nanti. Hal itu memicu dia untuk menyisihkan uangnya untuk ditabung.

Setelah beberapa bulan dia bekerja dia semakin menyenangi pekerjaannya. Selama ini dia dipercaya untuk membantu membeli bahan baku, membantu membuat bakso, meladeni pembeli, cuci piring, gelas dll. Disamping dia bekerja, dia juga mempelajari teknik membuat bakso, melayani pelanggan dsb sehingga semua aspek teknis pembuatan bakso telah dia kuasai.


Mengidentifikasi peluang usaha dan memulai usaha.

Sekitar 2 tahun bekerja membantu warung bakso, banyak hal tentang per bakso-an telah dia kuasai. Dia tahu dimana membeli hahan baku dan bahan-bahan pembantu serta berapa harganya

Sudah agak lama Ponidi bercita-cita untuk mandiri, namun masih bimbang untuk memilih jenis usaha yang cocok dengan kondisinya yang akan dapat ia lakukan dan tabungan yang ada untuk modal usaha belum mencukupi.

Dia semakin yakin bahwa usaha bakso menjadi pilihan yang paling tepat baginya. Untuk itu Ponidi ingin mencoba sendiri dengan berjualan bakso keliling.

Setelah tabungannya dirasa mencukupi untuk memulai usaha bakso, dia keluar dari pekerjaannya dan mulai mempersiapkan untuk usaha bakso keliling. Beberapa pertimbangan yang dia lakukan dalam memilih jenis usaha, antara lain :
1. Bahwa bakso banyak diminati oleh masyarakat di Surabaya. Hal ini terbukti banyaknya penjual/warung bakso dan pada umumnya cukup banyak pembeli.
2. Modalnya sedikit, yaitu untuk membeli angkring (gerobak), piring/mangkok, sendok , garpu, bahan baku, dan bahan-bahan yang lain. Yang paling mahal adalah untuk membeli angkring. Uang tabungan yang dia miliki, cukup untuk memulai usaha.
3. Perputaran modal kerjanya cepat. Setiap hari mesti mendapatkan uang.
4. Bahan bakunya mudah diperoleh.
5. Tingkat keuntungannya tinggi, sekitar 20% sd 30% setiap hari dari modal kerjanya.
6. Teknologi membuat bakso telah dia kuasai.
7. Risikonya kecil.

Ponidi memulai usaha bakso keliling di Surabaya. Awal mulanya dia tidak berani berspekulasi dengan menjual bakso yang banyak. Sehari dia hanya membuat bakso dengan bahan baku daging sapi sekitar 1 kg. Dengan tekun dia lakukan itu. Setiap hari dia selalu menyisihkan sebagian keuntungannya untuk ditabung. Berkat ketekunannya usaha baksonya sedikit demi sedikit berkembang.


Hijrah ke Ponorogo.

Sebagaimana layaknya darah Madura yang suka berpetualang, Ponidi ingin mencoba nasib ditempat lain yang dianggap mempunyai prospek yang lebih baik dibanding Surabaya. Walaupun usaha baksonya berkembang tetapi menurut dia perkembangan masih sangat lambat. Hal ibi disebabkan penjual bakso di Surabaya cukup banyak sehingga persaingan antar pedagang bakso semakin ketat. Akhirnya dia memutuskan untuk mengadu nasib di Ponorogo, sebuah Kabupaten kecil 28 km disebelah selatan Madiun.

Di Ponorogo dagangan Ponidi cukup diminati oleh masyarakat. Pelanggan semakin banyak, volume penjualannya meningkat dan juga tabungan Ponidi semakin bertambah. Hal yang positif dari Ponidi adalah selalu hemat dalam kondisi apapun.
Salahsatu pelanggan Ponidi adalah penjaga Toko Ramayana yang bernama Bibit. Setiap siang sekitar pukul 12 siang Ponidi mesti mampir ke Toko Ramayana dan Bibit pasti selalu menunggu kedatangannya untuk membeli dan merasakan bakso Ponidi yang menurutnya enak sekali. Bibit tidak hanya kepingin makan baksonya Ponidi tetapi ingin ketemu dan berbincang-bincang dengannya. Menurutnya berbincang-bincang dengan Ponidi mengasyikkan dan ada kecocokan dengan Bibit. Menurutnya Ponidi ini lain dari yang lain.

Bibit ini walaupun gadis desa tapi wajahnya cukup cantik, kulitnya juga bersih, pandai bergaul tapi agak genit. Karena sering ketemu akhirnya kedua makhluk Tuhan ini saling jatuh cinta. Untuk melangkah lebih lanjut ke jenjang perkawinan, Ponidi maupun Bibit masih belum berani, karena persiapannya terutama pendapatan masih belum mencukupi. Pada waktu itu umur Ponidi sekitar 20 tahun sedangkan Bibit sekitar 17 tahun.


Hijrah ke Malang.

Merasa bahwa perkembangan usaha bakso keliling di Ponorogo masih belum sesuai dengan harapannya, akhirnya Ponidi mencoba nasibnya di Malang. Dari pengalamannya dia mengetahui bahwa berdagang dengan sasaran pembeli (segmen pasar) golongan masyarakat kurang mampu ternyata tingkat keuntungannya tidak banyak. Golongan masyarakat kurang mampu sangat sensitive terhadap harga, sehingga Ponidi harus menjual baksonya dengan harga murah. Untuk mendapatkan keuntungan yang diharapkan, Ponidi harus menjual sebanyak mungkin baksonya. Ini yang menurutnya sulit.

Di Malang ternyata pesaingnya malah banyak. Kualitas bakso di Malang jauh lebih baik dari baksonya Ponidi, sehingga usaha Ponidi kurang berkembang. Namun dia pantang menyerah. Dia mempelajari cara untuk meningkatkan kualitas bakso/bakwan Malang dan akhirnya resep bakso/bakwan dapat dia kuasai.


Meningkatkan kualitas bakso dan mengubah segmen pasar.

Kemudian dia mencoba meningkatkan kualitas baksonya dan mengubah sasaran penjualan bakso dari golongan masyarakat kurang mampu ke golongan masyarakat yang lebih mampu. Disamping itu dia selalu minta masukan, kritik atau saran kepada pembelinya tentang kualitas baksonya dan kualitas pelayanannya. Setiap masukkan dicoba untuk di nalar dan digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki kualitas bakso dan kualitas pelayanannya,
Alhamdulillah walaupun pelan tapi pasti Ponidi dapat meningkatkan kualitas bakso dan kualitas pelayanannya sesuai dengan keinginan konsumen. Dengan perbaikan kualitas bakso dan pelayanannya, volume usaha Ponidi semakin meningkat. Segmen pasar golongan masyarakat mampu semakin banyak yang menjadi pelanggan/pembeli baksonya.


Menikah.

Sambil bekerja Ponidi selalu mengadakan kontak dengan Bibit, pujaan hatinya melalui surat. Minimal seminggu sekali surat mesti dia kirim ke Bibit di Ponorogo. Demikian juga minimal seminggu sekali Bibit mengirim surat ke Malang.

Setelah tabungan dirasa cukup dan penghasilan dirasa juga dapat menutup biaya keluarga maka Ponidi secara resmi melamar Bibit untuk menjadi isterinya dan akhirnya mereka menikah dan Bibit di boyong ke Malang. Setelah menikah, semangat usaha Ponidi semakin meningkat. Apalagi setiap hari dia dibantu oleh isterinya tercinta yang selalu memberi dorongan kepada Ponidi.

Di Malang inilah awal mula keberhasilan Ponidi. Hal ini disebabkan dia meningkatkan kualitas bakso serta pelayanannya dan memperhatikan masukan dari pembeli serta dorongan dari isterinya.

Walaupun cukup sukses, Ponidi masih bercita-cita lebih sukses lagi. Di Malang, saingannya cukup banyak. Hampir semua penjual bakso di Malang kualitas baksonya bagus. Dia berpikir kalau dia pindah ke kota lain yang pada umumnya kualitas baksonya kurang bagus dia mungkin akan lebih menang dalam bersaing. Ahirnya dia berembug dengan isterinya untuk mencoba nasib dikota lain dan menentukan kota dimana dia akan pindah.


Hijrah ke Yogyakarta.

Keluarga Ponidi menentukan Yogyakarta sebagai tempat usaha dengan beberapa pertimbangan, antara lain :
1. Penduduk kota Yogya cukup padat dan sebagian besar anak muda.
2. Sebagian besar anak muda suka makan bakso,
3. Biaya hidup rendah,
4. bahan baku mudah didapat,
5. Pesaing dengan kualitas bakso yang sama, tidak banyak,
6. Kultur masyarakatnya bagus,

Karena sudah mempunyai tabungan yang agak cukup, di Yogya Ponidi tidak lagi menjual bakso keliling tetapi memasang tenda di muka rumah sakit Pugeran, pojok beteng kulon Yogyakarta. Dia berpikiran kalau tetap melaksanakan dengan cara lama (keliling) pelanggannya akan sulit untuk mencari dia kalau sewaktu-waktu ingin membeli baksonya. Dengan berjualan menetap, sewaktu-waktu pelanggan ingin membeli baksonya, pelanggan akan tahu dimana dia berada. Sejak saat itu dia pasang nama baksonya dengan nama “Cak Karno” nama sepupu Ponidi di Madura.

Semakin lama Bakso Ponidi semakin banyak pelanggannya dan dia semakin banyak tabungannya. Walaupun penghasilannya terus bertambah, prinsip “hemat” masih diterapkan oleh Ponidi dan keluarganya.

Tidak jauh dari warung tendanya ada tempat permanent milik pensiunan AURI yang disewakan. Ukuran tempat tersebut sekitar 8 x 8 meter. Waktu itu sewa per tahunnya Rp.14.000.000,- Setelah dipertimbangkan dengan masak-masak dan mengingat pembeli semakin banyak, Ponidi akhirnya menyewa tempat tersebut.

Dari hari ke hari volume penjualan warung bakso Ponidi semakin meningkat. Tidak sampai 1 tahun menyewa tempat jualan, Ponidi berhasil membeli tempat tersebut yang kebetulan pemiliknya membutuhkan uang dan menawarkan kepada Poinidi untuk membeli rumah tersebut. Pembelian tempat usaha ini juga mempertimbangkan kecocokan dengan segmen pasar yang baru.

Karena pelanggan semakin meningkat dan dari seluruh wilayah kodya Yogyakarta, maka Ponidi mencoba untuk mendekatkan pelayanan baksonya agar lebih dekat dengan pelanggan. Dia membuka 3 cabang warung bakso yaitu di dekat Pakualaman, Jl. Bhayangkara dan di dekat Jl. Solo.

Sekitar tahun 1996 Ponidi dapat menjual bakso dengan bahan baku daging sebanyak 200 kg. Pada waktu itu keuntungan yang dia peroleh per harinya tidak kurang dari Rp.2,5 juta. Pada waktu krisis ekonomi melanda Indonesia, jumlah tabungan Ponidi di Bank sekitar Rp.900.000.000,- dan tabungan isterinya sekitar Rp.200.000.000,- dengan bunga lebih dari 60% per tahun. Disamping tabungan di Bank, Ponidi mempunyai beberapa rumah yang total nilainya diatas Rp.1 milyard, mempunyai 2 buah mobil.

Saat ini tabungan Ponidi di Bank dan isterinya lebih dari Rp.5 milyard. Angka yang fantastis untuk penjual bakso yang pendidikannya hanya lulus SD.Hanya saja saat ini volume penjualan Ponidi menurun drastic menjadi 25 kg daging per hari. Hal ini antara lain disebabkan ada beberapa saudara Ponidi yang dulu bekerja di warungnya Ponidi mendirikan usaha yang sama dengan kualitas yang sama.

Pelajaran yang dapat diambil :

Dari kisah diatas ada beberapa hal positif yang dapat diambil apabila kita akan memulai usaha dan mengembangkan usaha, antara lain :
1. Si calon pengusaha harus mempunyai motivasi yang kuat untuk memperbaiki kehidupannya.
2. Langkah berikutnya adalah memilih peluang usaha dan jenis usaha yang akan dia lakukan yang paling tepat dengan kondisi usaha mikro. Jenis usaha yang dipilih seyogyanya memenuhi criteria sebagai berikut :
a. Produknya dibutuhkan masyarakat,
b. Tidak membutuhkan modal yang banyak (tidak padat modal),
c. Perputarannya cepat kalau bisa harian,
d. Risikonya kecil,
e. Manajemennya sederhana,
f. Bahan baku mudah diperoleh,
g. Tekonologinya dikuasai,
h. Tingkat keuntungannya tinggi.
3. Memilih segment pasar yang cocok dan mengidentifikasi “keinginan” segment pasar yang dituju.
4. Membuat produk, menetapkan harga, menentukan saluran distribusi, pelayanan dan jenis promosi yang dapat memuaskan konsumen (marketing mixed),
5. Selalu mendengarkan masukan konsumen, sehingga dapat disajikan produk dan pelayanan yang memuaskan mereka.
6. Tetap bersikap hidup hemat dan berbudaya surplus, sehingga tabungan semakin banyak.
7. Disamping ditabung, surplus yang diperoleh selalu ditempatkan dalam bentuk investasi yang meghasilkan keuntungan.

Jakarta, 20 Februari 2004.

Steve Jobs (CEO of Apple Computer) Story (kisah inspiratif dan sangat motivatif)...(great story)...

Steve Jobs (CEO of Apple Computer) Story

Terjemahan dalam bahasa Indonesia (dapat dari milis id-mac, diposting oleh Untung Wijaya)


Saya diberi kehormatan untuk bersama kalian di hari pertama di salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus kuliah. Bahkan sesungguhnya inilah saat terdekat saya terlibat dalam upacara wisuda. Hari ini saya ingin berbagi tiga cerita dalam kehidupan saya. Hanya itu, tidak lebih. Hanya tiga cerita.


Cerita Pertama adalah mengenai menghubungkan titik-titik.

Saya putus kuliah dari Reed College setelah 6 bulan pertama, tapi saya tetap ada di kampus selama 18 bulan berikutnya sebelum saya benar-benar berhenti. Jadi kenapa saya keluar, Dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah seorang mahasiswi muda dan tidak menikah, ia memutuskan untuk menyerahkan saya untuk diadopsi. Ia sangat menginginkan agar saya diadopsi oleh lulusan universitas, jadi semuanya sudah diatur agar saya akan diadopsi pada saat lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Hanya saja, saat saya lahir, mereka ternyata menginginkan seorang anak perempuan. Jadi orangtua angkat saya, yang masuk dalam daftar tunggu, menerima telepon di tengah malam yang menanyakan: "Kita ada satu bayi laki-laki, kalian mau" Mereka berkata, "Tentu saja."

 

Di kemudian hari ibu kandung saya menemukan bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya tidak pernah lulus SMA. Ibu kandung saya menolak menandatangani berkas akhir adopsi. Ia baru rela beberapa bulan kemudian ketika orangtua angkat saya berjanji bahwa saya akan kuliah suatu hari nanti.


Dan 17 tahun kemudian saya benar-benar masuk kuliah. Namun bodohnya saya memilih tempat kuliah yang nyaris sama mahalnya dengan Stanford, dan seluruh tabungan orang tua angkat saya habis untuk membiayai kuliah saya. Setelah enam bulan, saya tidak dapat melihat arti kuliah ini.Saya tidak punya tujuan hidup dan tidak mengerti bagaimana kuliah dapat menolong saya memiliki tujuan hidup. Sedangkan saya sudah menghabiskan semua uang orangtua saya yang telah mereka tabung seumur hidup. Jadi saya memutuskan untuk keluar dan percaya semuanya akan beres.

 

Cukup menakutkan juga saat itu, tapi jika saya tengok kembali itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Begitu saya putus kuliah saya dapat berhenti masuk kelas wajib yang tidak saya sukai, dan mulai masuk ke kelas yang tampaknya menarik.


Tidak selamanya romantis sih. Saya tidak punya kamar asrama, jadi saya tidur di lantai kamar teman saya, saya menukar botol coke di deposit 5 untuk membeli makanan, dan saya akan berjalan sejauh 7 mil melintasi kota setiap minggu malam untuk mendapatkan makan malam yang enak di kuil Hare Krishna. Aku sangat menyukainya. Dan ternyata dengan menuruti rasa ingin tahu dan intuisi, saya memperoleh hal yang berharga di kemudian hari. Ini salah satu contohnya:


Reed College pada masa itu mungkin memiliki tulisan kaligrafi terbaik di negeri ini. Di semua poster kampus, semua label di setiap laci, ditulis tangan dengan kaligrafi yang indah. Karena saya sudah keluar dari kuliah dan tidak harus mengambil kelas tertentu, saya memutuskan untuk mengambil kelas kaligrafi untuk belajar caranya. Saya belajar tipe tulisan serif dan san serif, tentang memvariasikan jumlah jarak antara kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang membuat para tipografis hebat menjadi hebat. Itu adalah sesuatu yang indah, bersejarah, berseni, sedemikian rupa sehingga ilmu pengetahuan tidak dapat menyamainya, dan menurut saya itu sungguh mengagumkan.


Tidak ada satupun yang sepertinya akan diterapkan dalam kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami merancang komputer Macintosh pertama, semuanya saya ingat kembali. Dan kami merancangnya di Mac. Itu adalah komputer pertama dengan tipografi yang indah. Jika saya tidak ikut kelas itu di kuliah, maka Mac tidak akan punya beragam tulisan atau huruf yang berjarak dengan proporsional. Dan karena Windows hanya meniru Mac, sepertinya tidak ada PC yang akan memiliki tipografi yang indah. Jika saja saya tidak pernah putus kuliah, saya tidak akan pernah belajar di kelas kaligrafi ini, dan komputer pribadi tidak akan memiliki tipografi yang bagus seperti sekarang ini. Tentu saja tidak mungkin menghubungkan titik-titik itu ke masa depan saat saya masih di kampus. Tapi terlihat sangat, sangat jelas jika ditinjau sepuluh tahun kemudian.

 

Sekali lagi, kita tidak dapat menghubungkan titik-titik di masa depan; kita hanya dapat menghubungkannya saat kita menengok ke belakang. Jadi kita harus percaya bahwa titik-titik itu suatu saat akan terhubung di masa mendatang. Kita harus percaya pada sesuatu - insting, takdir, kehidupan, karma, apalah. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakan saya, bahkan telah membuat semua perubahan dalam kehidupan saya.


Cerita kedua saya adalah mengenai cinta dan kehilangan.

Apakah saya beruntung? Saya menemukan apa yang saya sangat suka lakukan dalam kehidupan lebih awal. Woz dan saya memulai Apple di garasi orangtua saya saat usia saya 20 tahun. Kami bekerja dengan keras, dan dalam 10 tahun Apple telah berkembang dari hanya kami berdua di garasi menjadi sebuah perusahaan senilai 2 milyar dollar dengan lebih dari 4000 pegawai. Kami baru saja meluncurkan karya terbaik kami - MacIntosh- setahun yang lalu, dan saya baru saja berusia 30. Kemudian saya dipecat.

 

Bagaimana kita bisa dipecat dari perusahaan yang kita mulai?

Hmm, seiring perkembangan Apple, kami mempekerjakan seseorang yang saya pikir sangat berbakat untuk menjalankan perusahaan dengan saya, dan semuanya berjalan lancar di tahun-tahun pertama. Namun kemudian pandangan kami mengenai masa depan mulai berbeda dan akhirnya kami saling bertentangan. Dewan direksi memihak ia. Jadi pada usia 30 saya keluar. Dan itu sangat terbuka. Apa yang telah menjadi fokus kehidupan saya telah hilang, dan itu sangat menyakitkan. Saya benar-benar tak tahu apa yang harus dikerjakan selama beberapa bulan. Saya merasa bahwa saya sudah mengecewakan generasi pengusaha sebelumnya - bahwa saya telah menjatuhkan tongkat yang telah diserahkan kepada saya. Saya bertemu David Packard dan Bob Noyce dan mencoba meminta maaf karena telah mengacaukan segalanya. Saya merasa sangat gagal di hadapan masyarakat, dan saya bahkan berpikir untuk pergi dari situ. Tapi sesuatu perlahan mulai terpikir. Saya masih mencintai apa yang telah saya lakukan. Kejadian di Apple tidak merubah sedikitpun. Saya telah ditolak, namun saya masih mencintainya. Jadi saya memutuskan untuk memulai lagi.


Saya tidak sadar saat itu, tapi ternyata dipecat dari Apple merupakan hal terbaik yang pernah terjadi dalam diri saya. Beban berat menjadi sukses digantikan dengan perasaan enteng menjadi orang baru lagi, menjadi kurang yakin mengenai apa saja. Hal ini membebaskan saya untuk memasuki salah satu periode paling kreatif dalam kehidupan saya.


Selama lima tahun berikutnya, saya memulai sebuah perusahaan bernama NeXT, sebuah perusahaan lain bernama Pixar, dan jatuh cinta dengan seorang wanita luar biasa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar berlanjut dengan menciptakan film dengan fitur animasi komputer yang pertama kali di dunia, Toy Storu, dan kini menjadi studio animasi paling sukses di dunia. Dalam salah satu peristiwa yang luar biasa, Apple membeli NeXT, saya kembali ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung kehidupan Apple. Dan Laurene dan saya bersama-sama memiliki keluarga yang bahagia.


Saya cukup yakin bahwa hal ini tidak ada yang akan terjadi jika saya tidak dipecat dari Apple. Memang sebuah pil pahit buat saya, namun saya pikir memang ini diperlukan. Terkadang kehidupan memukul kita dengan sangat keras. Jangan hilang kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus bertahan adalah; …saya mencintai apa yang saya lakukan. Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai, dan satu-satunya cara untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa adalah mencintai apa yang kalian lakukan. Jika kalian belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menetap. Sama seperti semua hal mengenai hati, kalian akan tahu saat kalian menemukannya. Dan seperti hubungan yang indah, ini akan membaik seiring waktu.


Jadi teruslah mencari hingga kau temukan. Jangan menetap.


Cerita saya yang ketiga mengenai kematian.

Ketika saya berusia 17 tahun, saya membaca sebuah kalimat bijak yang bunyinya seperti ini, "Jika kau menjalani tiap hari dalam hidupnya seakan itu adalah hari terakhirnya, suatu akhir mungkin saja kau benar." Ini sungguh mengesankan saya, dan sejak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya memandangi cermin setiap pagi dan bertanya pada diri sendiri, "Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidupku, apakah aku akan mau melakukan apa yang akan aku lakukan hari ini" Dan setiap kali jawabannya adalah "Tidak" terlalu lama selama beberapa hari, saya tahu saya perlu mengubah sesuatu. Mengingat bahwa saya akan mati suatu saat adalah hal yang paling penting yang saya temukan untuk menolong saya membuat keputusan penting dalam hidup. Karena hampir semuanya semua keinginan, semua kebanggaan, semua ketakutan akan malu atau kegagalan - akan menjadi tidak penting dibandingkan menghadapi kematian, sehingga hanya itu saja yang benar-benar penting. Mengingat bahwa kalian akan mati merupakan cara terbaik yang saya gunakan untuk menghindari perangkap pemikiran kalian akan kehilangan sesuatu. Kalian sudah telanjang. Tidak ada alasan untuk tidak menuruti kata hati.


Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosa mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7.30 pagi, dan tampqk jelas sebuah tumor di pankreas saya. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter memberitahu saya bahwa hampir dipastikan ini jenis kanker yang tidak dapat disembuhkan, dan harapan hidup saya hanya enam bulan lagi. Dokter saya menganjurkan saya pulang ke rumah dan membereskan urusan saya,sebenarnya ini isyarat dokter untuk mempersiapkan kematian. Ini berarti mencoba memberitahu anak-anak kita semuanya yang kita pikir baru akan dikatakan 10 tahun mendatang dalam waktu hanya beberapa bulan kemudian. Ini berarti harus memastikan semuanya sudah beres sehingga sebisa mungkin meringankan keluarga. Ini berarti ucapan selamat tinggal.

 

Saya hidup dengan diagnose itu sepanjang hari. Sore harinya saya menjalani biopsi, dimana mereka memasukkan sebuah endoskopi melalui tenggorokan, perut, usus, memasukkan jarum ke dalam pankreas, dan mengambil beberapa sel dari tumor. Sewaktu itu saya dibius, namun istri saya, yang saat itu hadir, memberitahu saya bahwa ketika para dokter memeriksa sel-sel dengan mikroskop, mereka mulai berteriak karena ternyata sel-sel itu adalah jenis kanker pankreas yang cukup jarang dan dapat disembuhkan melalui operasi. Saya melalui operasi itu dan baik-baik saja hingga saat ini.


Itu adalah saat terdekat saya menghadapi kematian, dan saya berharap hanya itulah hingga beberapa dekade mendatang. Karena sudah melalui tahapan ini, saya bisa lebih yakin mengatakan ini bahwa kematian adalah sebuah konsep yang berguna namun murni intelektual.


Tidak ada yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin ke surga tidak mau mencapainya dengan cara mati. Namun kematian adalah tujuan sama untuk kita semua. Tidak ada yang bisa menghindarinya. Dan seperti itu seharusnya karena Kematian mungkin merupakan satu-satunya penemuan terbaik dari Kehidupan. Itu adalah agen perubahan Kehidupan. Ia memberikan jalan untuk yang baru dengan menyingkirkan yang lama. Kali ini yang baru adalah kalian, namun suatu hari tidak lama dari sekarang, kalian akan menjadi tua dan disingkirkan. Maaf jika ini terdengar terlalu dramatis, namun memang demikian.


Waktu kalian terbatas, jadi jangan habiskan dengan hidup dalam kehidupan orang lain. Jangan diperangkap oleh dogma, yaitu hidup dengan hasil daya pikir orang lain. Jangan biarkan opini orang lain mengaburkan suara hati kalian. Dan yang terpenting, punyailah keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisimu. Terkadang mereka sudah tahu kalian akan menjadi apa. Yang lainnya hanyalah sampingan.

 

Ketika saya masih muda, ada sebuah terbitan luar biasa bernama Katalog Seluruh Dunia, yang menjadi salah satu kitab suci generasi saya. Ini dikarang oleh seseorang bernama Stewart Brand tak jauh dari sini di Menlo Park, dan ia menghidupkannya dengan sentuhan puitisnya. Ini terbit akhir tahun '60-an, sebelum komputer pribadi dan penerbitan menggunakan desktop, jadi itu semua dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid.

 

Seperti Google dalam bentuk buku 35 tahun sebelum Google muncul: itu adalah hal idealis dan dilengkapi dengan alat bantu yang keren dan catatan yang bagus. Stewart dan timnya mengeluarkan beberapa edisi Katalog Seluruh Bumi, dan ketika sudah beredar, mereka mengeluarkan edisi terakhir. Itu pertengahan tahun '70-an, dan saya seusia kalian.

 

Di halaman belakang edisi terakhir mereka ada sebuah foto mengenai jalan perkampungan waktu dini hari, jalan yang mungkin kalian akan ikuti jika kalian suka berpetualang. Di bawahnya ada kata-kata: "Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh." Itu adalah pesan perpisahan mereka sebelum mereka pergi. Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh. Dan saya selalu berharap hal itu untuk saya sendiri. Dan sekarang, kalian sebagai lulusan baru, saya mengharapkan itu untuk kalian. Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.

 

Versi Inggris dapat di baca di : http://news-service.stanford.edu/news/2005/june15/jobs-061505.html

Terjemahan saya ambil dari : http://cheya.blogspot.com/2007/09/steve-jobs-ceo-of-apple-computer-story.html

 

 

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.519 / Virus Database: 269.22.4/1355 - Release Date: 4/1/2008 5:37 PM

 

No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.519 / Virus Database: 269.22.4/1355 - Release Date: 4/1/2008 5:37 PM

Google : The Secret

Google : The Secret

Rasanya tidak ada pengguna internet yang tidak tahu tentang Google. Google terkenal sebagai sebuah website search engine yang saat ini paling banyak digunakan. Nama google sebenarnya diambil dari istilah di bidang matematika yaitu googol, yaitu bilangan satu yang diiikuti oleh 100 bilangan nol dibelakangnya. Pemilihan nama Google ini menggambarkan misi dari perusahaan tersebut untuk dapat mengelola informasi yang jumlahnya tidak terbatas yang terdapat di internet. Saking terkenalnya Google sebagai search engine, kata google (googling) sendiri mulai digunakan sebagai bahasa umum untuk sinonim dari kata search (searching). Sebagai sebuah perusahaan multinasional, Google sebenarnya masih tergolong sangat muda. Google Inc. didirikan pada tahun 1998 oleh Larry Page dan Sergey Brin. Mereka bertemu pada tahun 1995 di Universitas Stanford. Ketika itu, Larry berumur 24 tahun sementara Sergey berumur 23 tahun Awalnya mereka selalu mempunyai pendapat yang berbeda untuk setiap topik yang mereka diskusikan. Sampai akhirnya mereka menemukan minat dan tantangan yang sama di bidang komputasi, yaitu bagaimana mendapatkan informasi relevan dari sejumlah besar data.

Mereka mungkin tidak pernah membayangkan Google akan menjadi sebesar sekarang ini ketika mereka mulai bekerja sama dalam proyek riset tersebut pada tahun 1996. Setahun kemudian mereka berhasil membangun sebuah search engine bernama BackRub. Begitu dipublikasikan, BackRub langsung memperoleh kesan yang sangat baik dari mereka yang pernah melihatnya. Mereka terus bekerja menyempurnakan teknologi yang mereka ciptakan tersebut. Pada tahun 1998 ketika proyek mereka akhirnya selesai mereka mengganti nama BackRub dengan Google.

Awalnya mereka berniat menjual teknologi mereka ke perusahaan-perusahaan yang berminat. Namun ternyata tidak banyak perusahaan yang tertarik mengingat waktu itu nama Google belum terkenal. Salah satu orang yang mereka temui ketika itu adalah David Filo, pendiri yahoo. Filo setuju bahwa teknologi Google sangat bagus, tetapi alih-alih membelinya, Filo malah mendorong Larry dan Sergey untuk mendirikan perusahaannya sendiri. Karena tidak berhasil menarik minat perusahaan-perusahaan besar, akhirnya Larry dan Sergey memutuskan untuk mendirikan perusahaan sendiri.

Keputusan tersebut membuat mereka berdua harus menunda keinginan mereka untuk mengambil gelar Ph.D. Mereka mulai berkeliling untuk mencari investor yang mau menanamkan uangnya untuk perusahaan baru mereka. Mereka juga membuat sendiri semua detil rencana bisnisnya. Usaha pencarian modal mereka membuahkan hasil dengan mengumpulkan uang sebesar 1 juta dollar. Uang tersebut terutama digunakan untuk membeli hardware canggih agar dapat mendukung teknologi Google mereka. Google Inc. akhirnya resmi berdiri pada September 1998. Kantor pertamanya hanyalah sebuah garasi di daerah Menlo Park, California, yang cukup untuk menampung para staff pertamanya sebanyak tiga orang. Saat ini, Google mempunyai kantor cabang yang tersebar di seluruh dunia, dengan jumlah karyawan lebih dari 10000 orang. Hanya dalam waktu yang relatif singkat, sembilan tahun, Google berhasil berkembang menjadi perusahaan besar yang multinasional.

Fakta ini menunjukkan kepada kita bahwa perkembangan suatu perusahaan itu tidak ditentukan oleh umur perusahaan tersebut. Perusahaan yang sudah lama berdiri belum tentu akan lebih berhasil daripada perusahaan yang baru berdiri. Kunci sukses Google yang pertama terletak pada ketajaman page dan Brin dalam menangkap kebutuhan masyarakat yang haus akan informasi, dan melakukan inisiatif yang tepat untuk memenuhinya. Selain itu, dalam masa-masa sulit mengembangkan usahanya, mereka tetap menjaga fighting spirit dalam diri mereka, sehingga mampu bertahan dan bahkan berhasil secara luar biasa. Kini, mampukah kita menerapkan dua pelajaran tersebut pada perusahaan kita, Smart Telecom?

(adw, agr, dan – brn)

SONY [R]EVOLUTION

SONY [R]EVOLUTION
Apa arti sebuah nama? pertanyaan itu yang akan muncul saat pembicaraan sebuah nama dilakukan. Soekarno mengatakan “Name is everything” . Nama adalah segalanya. Bagi sebuah perusahaan nama adalah image yang akan terus tertanam dalam benak konsumennya.

SONY. Orang mengenalnya lewat produk elektronik,  televisi, sound system, computer, walkman serta produk terkininya PS3 dan PS portable. Dengan inovasi  dan kualitasnya, produk SONY menyebar ke seluruh dunia dan merambah bidang-bidang lain seperti film, musik dan games.
SONY didirikan pada 1946 oleh Akio Morita dan Masaru Ibuka dengan nama Tokyo Tsushin Kogyo K.K. (Tokyo Telecommunications Engineering Corporation), selanjutnya disebut Totsuko. Produk pertamanya adalah power megaphone yang keluar pada bulan Oktober 1947. Kemudian disusul dengan magnetic tape recorder pada Juli 1950. produk-produk ini meningkatkan penjualan dan nama Totsuko mulai dikenal secara luas.

Meningkatnya penjualan ini sangat menggembirakan bagi perusahaan. Tetapi disisi lain, Akio melihat ketergantungan penjualan yang tinggi pada pasar dalam negeri. Naik turunnya performa perusahaan akan mengikuti kondisi perekonomian dalam negeri. Hal ini akan membahayakan perusahaan. Totsuko melihat peluang untuk memperluas pasar bagi produknya dengan melakukan penjualan ke seluruh dunia. Dan juga peluang untuk masuk pada bidang lain selain elektronik.Totsuko menjalankan rencananya dengan melakukan perubahan image perusahaan. Image yang mencerminkan visi, misi dan nilai perusahaan yang dapat diterima pasar dunia. Pada tahun 1955 Tostsuko memulainya dengan dicantumkannya logo SONY pada produknya. Perdebatan mulai timbul, dari pihak internal dan juga eksternal. Karyawan mulai menanyakan maksud dan arah perusahaan dan kemungkinan kegagalan yang akan mengancam pada kehidupan mereka. Mereka merasa ini  adalah sebuah perjudian. Nama yang sudah tertanam dalam benak konsumen dalam negeri selama sepuluh tahun akan dibongkar dan diganti dengan nama baru. Dan juga pemilihan nama SONY, sangat tidak biasa perusahaan Jepang menggunakan nama Romawi. Bank Mitsui sebagai pendukung SONY juga menanyakan alasan perubahan nama tersebut. Membutuhkan waktu sepuluh tahun bagi Totsuko untuk dapat dikenal, dan setelah itu mengapa harus melakukan perubahan yang tidak signifikan, demikian pertanyaan dari Bank Mitsui.

Akhirnya setelah melakukan inisiasi selama tiga tahun Totsuko berubah nama menjadi SONY Corp. Langkah inovatif dan berani ini diikuti oleh produk yang berkualitas dan strategi pemasaran ke seluruh negara yang dianggap potensial. Setelah beberapa tahun nama SONY Corp telah dikenal seluruh dunia dan merupakan jaminan produk yang berkualitas dan inovatif. Orang pasti mengenal produk SONY mulai dari televisi, walkman, film, kaset musik, hingga mesin permainan PS3.

Perubahan nama yang dilakukan oleh SONY adalah buah dari sensitivitas mereka terhadap perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Sensititas visioner ini akhirnya membuat mereka berani melakukan inovasi perubahan nama yang tidak lazim bagi perusahaan Jepang, tetapi akan mampu mentransfer visi mereka. Dan hasil proses perubahan nama yang diawali dengan inisiasi sampai akhirnya secara resmi digunakan membutuhkan endurance dan kesabaran untuk memetik hasilnya. (dod-brn)

Sumber : www.sony.net ; www.wikipedia.org ; www.so-net.de

 

Franklin D. Roosevelt

Franklin D. Roosevelt
Happiness is not in the mere possession of money; it lies in the joy of achievement, in the thrill of creative effort
(Source : -)